🤖 Analisa AI Pendidikan Peserta Pelatihan

Sistem melakukan pembacaan otomatis terhadap distribusi strata pendidikan peserta berdasarkan jenis pelatihan dan wilayah kabupaten/kota untuk menghasilkan insight analitik mengenai karakteristik sumber daya manusia peserta pelatihan.

📘 Analisa Berdasarkan Jenis Pelatihan
🎓Teknik Perbengkelan Alsintan bagi Operator UPJA Angkatan I
Pelatihan Teknik Perbengkelan Alsintan bagi Operator UPJA Angkatan I didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 15 orang atau sekitar 50% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Teknik Perbengkelan Alsintan bagi Operator UPJA Angkatan II
Pelatihan Teknik Perbengkelan Alsintan bagi Operator UPJA Angkatan II didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 21 orang atau sekitar 70% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Presisi berbasis Digital Farming I
Pelatihan Pertanian Presisi berbasis Digital Farming I didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 14 orang atau sekitar 47% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Presisi berbasis Digital Farming II
Pelatihan Pertanian Presisi berbasis Digital Farming II didominasi peserta dengan strata pendidikan S-1 sebanyak 16 orang atau sekitar 53% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Peningkatan Kapasitas SDM UPT PB Hortikultura Menuju Kemandirian Sertifikasi & Pengembangan Teknik Budidaya Hortikultura
Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM UPT PB Hortikultura Menuju Kemandirian Sertifikasi & Pengembangan Teknik Budidaya Hortikultura didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 16 orang atau sekitar 53% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Peningkatan Kompetensi bagi Pengelola Kebun UPT PATPH
Pelatihan Peningkatan Kompetensi bagi Pengelola Kebun UPT PATPH didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 19 orang atau sekitar 63% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Kepemanduan bagi Petugas POPT Angkatan I
Pelatihan Kepemanduan bagi Petugas POPT Angkatan I didominasi peserta dengan strata pendidikan S-1 sebanyak 22 orang atau sekitar 73% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Kepemanduan bagi Petugas POPT Angkatan II
Pelatihan Kepemanduan bagi Petugas POPT Angkatan II didominasi peserta dengan strata pendidikan S-1 sebanyak 18 orang atau sekitar 60% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan I
Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan I didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 21 orang atau sekitar 70% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan II
Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan II didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 19 orang atau sekitar 63% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan III
Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan III didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 21 orang atau sekitar 70% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan IV
Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Angkatan IV didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 22 orang atau sekitar 73% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan I
Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan I didominasi peserta dengan strata pendidikan NA sebanyak 12 orang atau sekitar 40% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan II
Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan II didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 22 orang atau sekitar 73% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan III
Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan III didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 13 orang atau sekitar 43% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🎓Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan IV
Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian bagi KWT Angkatan IV didominasi peserta dengan strata pendidikan SLTA sebanyak 21 orang atau sekitar 70% dari total peserta pelatihan. Komposisi ini menunjukkan kecenderungan bahwa pelatihan tersebut lebih diminati oleh kelompok pendidikan tertentu sehingga pendekatan materi, metode pembelajaran, dan kedalaman teknis dapat disesuaikan dengan karakteristik akademik peserta.
🏙️ Analisa Berdasarkan Kabupaten/Kota
📍Gresik
Kabupaten/Kota Gresik menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan NA sebanyak 7 orang atau sekitar 64% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Jombang
Kabupaten/Kota Jombang menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 6 orang atau sekitar 60% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Mojokerto
Kabupaten/Kota Mojokerto menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 7 orang atau sekitar 35% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Mojokerto Kota
Kabupaten/Kota Mojokerto Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 6 orang atau sekitar 86% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Sidoarjo
Kabupaten/Kota Sidoarjo menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 24 orang atau sekitar 65% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Surabaya
Kabupaten/Kota Surabaya menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 9 orang atau sekitar 64% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Bojonegoro
Kabupaten/Kota Bojonegoro menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 7 orang atau sekitar 41% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Tuban
Kabupaten/Kota Tuban menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 8 orang atau sekitar 80% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Lamongan
Kabupaten/Kota Lamongan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 7 orang atau sekitar 88% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Malang
Kabupaten/Kota Malang menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 8 orang atau sekitar 47% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Malang Kota
Kabupaten/Kota Malang Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 7 orang atau sekitar 54% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Batu
Kabupaten/Kota Batu menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan NA sebanyak 6 orang atau sekitar 38% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Pasuruan
Kabupaten/Kota Pasuruan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 11 orang atau sekitar 46% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Pasuruan Kota
Kabupaten/Kota Pasuruan Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 11 orang atau sekitar 85% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Probolinggo
Kabupaten/Kota Probolinggo menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 9 orang atau sekitar 75% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Probolinggo Kota
Kabupaten/Kota Probolinggo Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 6 orang atau sekitar 60% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Lumajang
Kabupaten/Kota Lumajang menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan NA sebanyak 9 orang atau sekitar 90% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Kediri
Kabupaten/Kota Kediri menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 9 orang atau sekitar 90% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Kediri Kota
Kabupaten/Kota Kediri Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 2 orang atau sekitar 67% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Nganjuk
Kabupaten/Kota Nganjuk menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 5 orang atau sekitar 63% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Blitar
Kabupaten/Kota Blitar menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 7 orang atau sekitar 70% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Blitar Kota
Kabupaten/Kota Blitar Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 5 orang atau sekitar 45% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Tulungagung
Kabupaten/Kota Tulungagung menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 7 orang atau sekitar 41% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Trenggalek
Kabupaten/Kota Trenggalek menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 4 orang atau sekitar 40% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Situbondo
Kabupaten/Kota Situbondo menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 6 orang atau sekitar 60% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Bondowoso
Kabupaten/Kota Bondowoso menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 7 orang atau sekitar 64% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Jember
Kabupaten/Kota Jember menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 16 orang atau sekitar 59% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Banyuwangi
Kabupaten/Kota Banyuwangi menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 10 orang atau sekitar 91% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Bangkalan
Kabupaten/Kota Bangkalan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 8 orang atau sekitar 89% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Sampang
Kabupaten/Kota Sampang menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 5 orang atau sekitar 71% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Pamekasan
Kabupaten/Kota Pamekasan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 8 orang atau sekitar 57% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Sumenep
Kabupaten/Kota Sumenep menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 3 orang atau sekitar 33% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Madiun
Kabupaten/Kota Madiun menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 10 orang atau sekitar 56% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Madiun Kota
Kabupaten/Kota Madiun Kota menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 6 orang atau sekitar 67% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Magetan
Kabupaten/Kota Magetan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 8 orang atau sekitar 89% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Ngawi
Kabupaten/Kota Ngawi menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 4 orang atau sekitar 40% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Ponorogo
Kabupaten/Kota Ponorogo menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan SLTA sebanyak 5 orang atau sekitar 50% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.
📍Pacitan
Kabupaten/Kota Pacitan menunjukkan dominasi peserta dengan pendidikan S-1 sebanyak 4 orang atau sekitar 50% dari total peserta wilayah. Kondisi ini menggambarkan profil kapasitas SDM daerah yang dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi pelatihan, pendekatan pembelajaran, serta penguatan literasi digital dan kompetensi teknis masyarakat.